Translator/terjemahan

Senin, 16 Februari 2009

SAHABATKU

Namanya Aldi (bukan nama sebenarnya), penampilannya sangat sederhana (itu kalau kita mau menhindari untuk memakai kata " dekil ") namun saya masih terbiasa memanggilnya dengan nama pemberian orang tuanya, dia berganti nama seiring dengan kepindahannya pada keyakinannya yang baru.
Dulu saya selalu berandai andai kalau orang ini sekeyakinan dengan saya tentulah persahabatan kami akan semakin tanpa sekat, rupanya sekarang keinginan saya dikabulkan oleh tuhan. Malam itu seperti biasanya kami saling berbagi cerita dan pemahaman. Rasa kaget langsung menyergapku ketika kami mulai saling membuka diri, aku tidak menyangka dalam waktu yang begitu singkatnya sahabat saya ini sudah melewati perjalanan spritual yang sebegitu tingginya jauh sudah dia menembus batas batas langit dalam usia yang masih relatif muda.
Malam itu kami betul betul mereguk nikmatnya waktu, berdua kami berada dalam kendaraaan yang melaju melebihi kecepatan cahaya, menembus segala batas dan sunnah, kami mencoba memasuki sebuah ruang yang tiada memiliki tepi dan kami asyik di dalamnya. tak terasa waktu berjalan sedemikian singkatnya dan azan subuh mulai terdengar. Aku masih ingat salah satu masalah yang kami perbincangkan malam itu, ketika dia mengatakan pada dasarnya manusia itu adalah bodoh karena itulah dia harus belajar, tentu saja saya membantahnya saya mengatakan manusia itu pada dasarnya pintar karena dia baru bisa disebut manusia kalau berilmu.




Selengkapnya...